Faktor suhu & cahaya: musuh utama stabilitas reagen.

Bayangkan begini: semua sampel sudah siap, instrumen sudah dikalibrasi, tapi hasil uji tiba-tiba melenceng. Setelah ditelusuri, penyebabnya bukan alat, bukan serum, bukan analis melainkan reagen yang rusak karena terlalu lama terpapar suhu ruang atau cahaya lampu. Kedengarannya sepele, tapi inilah salah satu penyebab paling fatal dalam dunia laboratorium klinik: degradasi reagen akibat suhu dan cahaya.

Menurut panduan terbaru WHO, stabilitas reagen IVD (in vitro diagnostics) sangat dipengaruhi oleh dua faktor besar, temperature fluctuation dan light exposure. WHO bahkan menegaskan bahwa studi accelerated stability harus memasukkan variabel suhu ekstrem, kelembapan, hingga cahaya, karena ketiganya berperan langsung dalam mempercepat degradasi kimiawi.


Buat laboratorium klinik, menjaga reagen tetap stabil bukan cuma soal disiplin SOP, tapi juga soal kualitas diagnosis pasien. Seimitsu Diagnostics sendiri menegaskan dalam dokumen resmi kami untuk melakukan penyimpanan reagen pada suhu 2–8°C, jangan dibekukan, dan lindungi dari cahaya. Begitu botol dibiarkan di bawah lampu terlalu lama, proses oksidasi bisa dimulai dalam hitungan jam.

Seimitsu Diagnostics, bahkan secara eksplisit menulis dalam lembar kit insert reagent, sebagai:

“All the components of the kit are stable until the expiration date on the label when stored tightly closed at 2-8ºC. Protected from light and contaminations prevented during their use. Do not use reagents over the expiration date.”

Sumber Gambar: iStock

Mengapa Kenaikan Suhu Berpengaruh Besar?

Secara ilmiah, mekanismenya cukup jelas. Kenaikan suhu mempercepat laju reaksi kimia, tapi juga mempercepat denaturasi protein di dalam reagen. Aturan umumnya, laju degradasi bisa meningkat dua kali lipat setiap kenaikan suhu 10°C. Sedangkan cahaya, terutama sinar biru dan UV—memicu pembentukan reactive oxygen species (ROS) yang dapat mengoksidasi residu asam amino atau merusak struktur molekul. Dampaknya, hasil tes bisa bias, atau bahkan tidak terbaca oleh sistem analyzer.

Khusus di Indonesia, faktor lingkungan jadi tantangan tersendiri. Suhu ruang laboratorium bisa mencapai 28–30°C, sementara pasokan listrik tidak selalu stabil. Di banyak laboratorium kecil, kulkas penyimpanan reagen sering kali dibuka-tutup tanpa log suhu yang konsisten. Dalam kondisi seperti ini, setiap penyimpangan kecil dari rentang 2–8°C bisa mempercepat kerusakan reagen beberapa kali lipat.


Selain suhu dan cahaya, faktor lain seperti kelembapan dan kontaminasi mikroba memang turut berperan. Tapi keduanya masih bisa dikontrol lewat desain kemasan dan aditif pengawet. Sementara suhu dan cahaya jauh lebih sulit dikendalikan tanpa sistem penyimpanan yang konsisten dan personel yang disiplin.

Oleh karena itu, banyak laboratorium besar kini mulai menerapkan sistem real-time temperature monitoring berbasis IoT, lengkap dengan alarm otomatis saat suhu melewati batas 8°C. Beberapa bahkan melengkapi lemari pendingin dengan filter cahaya amber untuk mengurangi paparan foto-oksidatif saat membuka pintu.


Pada akhirnya, stabilitas reagen bukan cuma soal tanggal kedaluwarsa di label. Ia adalah hasil dari kombinasi antara formulasi kimia, sistem penyimpanan, dan disiplin pengguna. Jika salah satu lemah, hasilnya bisa fatal untuk keakuratan data, maupun keselamatan pasien.

Jadi, sebelum menyalahkan alat atau sistem analisis, ada baiknya laboratorium menengok dulu ke hal yang paling sederhana: apakah reagen masih disimpan di suhu yang benar, dan apakah botolnya cukup terlindung dari cahaya?

Pantau terus pembaruan panduan dan tips kualitas laboratorium hanya di Seimitsu Diagnostics. Hubungi kami sekarang untuk konsultasi dan informasi lebih lanjut! Anda bisa langsung hubungi tim kami via: