Kesalahan Pre-Analitik Penyebab Ketidakakuratan Hasil Lab!

Ketika Hasil Uji Darah Tak Sesuai, Siapa yang Salah?

Ketika hasil uji darah menunjukkan angka aneh padahal pasien tampak sehat, penyebabnya sering bukan alat atau reagen. Masalah justru muncul sebelum sampel diuji. Studi internasional 2023–2025 menunjukkan bahwa lebih dari 60% kesalahan laboratorium terjadi di fase pre-analitik.

BACA JUGA:

Di laboratorium, akurasi adalah segalanya. Sedikit saja hasil meleset bisa mengubah diagnosis dan pengobatan. Bahkan, hal kecil dapat membahayakan nyawa pasien.
Karena itu, lembaga seperti WHO, ISO, EFLM, dan CLSI menekankan pentingnya total testing process. Proses ini terdiri dari tiga fase: pre-analitik, analitik, dan post-analitik. Namun, data terbaru membuktikan bahwa fase pre-analitik masih menjadi sumber kesalahan terbesar.

Kesalahan kecil bisa berakibat besar. Misalnya, reagen dibiarkan terlalu lama di suhu ruang, label sampel tertukar, atau pengiriman sampel terlambat. Hal-hal sederhana seperti ini dapat mengubah hasil uji, meskipun alat dan reagen berfungsi baik.

Laporan WHO Laboratory Quality Management System (LQMS) menyoroti pentingnya pelatihan SDM. Banyak kesalahan terjadi bukan karena alat rusak, tetapi karena staf belum mahir menggunakan chemistry analyzer.
Selain itu, kesalahan bisa timbul dari proses pencairan serum atau pembuatan aliquote. Dalam sistem LQMS, pengawasan mutu harus menyeluruh. Ini mencakup suhu penyimpanan reagen, jadwal kalibrasi alat, dan kompetensi staf.


Fase Analitik Bukan Sumber Utama Masalah

Sumber Gambar: Cornerstone Urgent 

Fase analitik sering dianggap paling penting, tetapi data menunjukkan hal lain. Hanya 1–3% kesalahan berasal dari chemistry analyzer atau proses analisis.

Laboratorium yang disiplin menjalankan SOP biasanya memiliki tingkat kesalahan yang sangat rendah pada fase ini.Meski begitu, alat dan reagen tetap berperan penting. Paparan suhu dan cahaya dapat mempercepat degradasi reagen. Dampaknya, sensitivitas uji menurun.
Oleh sebab itu, pabrikan dan distributor menekankan penyimpanan sesuai standar International Council for Harmonisation (ICH) — bukan sekadar “asal dingin”.

Selain faktor teknis, kompetensi manusia tetap menjadi kunci utama. SDM yang terlatih mampu menekan kesalahan secara signifikan.
Riset dari Lemigas dan Universitas Indonesia menunjukkan bahwa “kompetensi analis dan kalibrasi alat” sangat memengaruhi presisi hasil uji.

Kini, inisiatif Quality Indicators (QI) dari IFCC mulai diterapkan di berbagai laboratorium di Indonesia.
Tujuannya jelas: agar setiap hasil tes, baik dari rumah sakit besar maupun klinik kecil, berbicara dalam bahasa mutu yang sama.


Pada akhirnya, akurasi hasil laboratorium bergantung pada kerja sama antara manusia, alat, dan sistem mutu. Tanpa disiplin di tahap awal, alat tercanggih pun tak akan memberi hasil yang akurat. Jadi, bila hasil laboratorium terlihat mencurigakan, mungkin bukan mesinnya yang salah, melainkan detail kecil yang terlewat.

Pantau terus pembaruan panduan dan tips kualitas laboratorium hanya di Seimitsu Diagnostics. Hubungi kami sekarang untuk konsultasi dan informasi lebih lanjut! Anda bisa langsung hubungi tim kami via: